Advertisement
LAMPUNG UTARA –JURNAL 5 com Polemik pemberhentian sejumlah relawan/karyawan pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Darul Fattah Negararatu 1, Kecamatan Sungkai Utara, Kabupaten Lampung Utara, kembali mencuat.
Sebelumnya, pihak SPPG melalui Kepala SPPG Affandi menyampaikan bantahan terhadap pemberitaan mengenai dugaan pemberhentian (PHK) sepihak. Terhadap delapan orang relawan yang jatuh sakit karena kelelahan.
Pihak SPPG berdalih demi berlangsungnya program MBG yang merupakan program unggulan pemerintah RI yang harus memastikan penyaluran MBG tersebut tidak akan terhambat ke sekolah-sekolah yang menjadi penerima manfaat.
karena hanya adanya permasalahan relawan.
Atas pernyataan tersebut publik bertanya-tanya mengapa pihak SPPG tidak memberikan klarifikasi hak jawabnya kepada media yang memberitakan permasalahan tersebut sebelumnya justru membuat berita tandingan yang menyudutkan para relawan.
Semestinya pihak SPPG memberikan hak jawab tersebut meminta konfirmasi terlebih dahulu kepada pihak media yang memberitakan tentang fakta Apa yang mendasari berita tersebut terbit.
Sehingga hak jawab yang dimaksud oleh pihak SPPG bisa objektif memberikan jawaban klarifikasi terhadap fakta apa yang sebenarnya terjadi.
Dalam hal ini apa yang dilakukan oleh pihak SPPG tersebut diduga demi menutupi fakta yang sebenarnya pihak SPPG membuat berita tandingan untuk memojokkan pihak relawan bahkan yangmana dalam pemberitaan tersebut mengandung unsur ancaman untuk membungkam kebenaran dan rasa keadilan yang diperjuangkan oleh para relawan.
Sebelum permasalahan ini mencuat para relawan yang telah diberhentikan (PHK) tersebut mengalami sakit karena kelelahan mereka di fosil bekerja hingga 13 jam selama dua minggu lebih demi mengejar target keuntungan untuk pihak SPPG.
Pada tanggal 23 September 2026.
Delapan orang relawan yang bertugas di bagian persiapan mengalami jatuh sakit akibat kelelahan.
Namun mereka tetap menyelesaikan tugasnya secara profesional.
Sebelum mereka pulang sekitar pukul 05:00. WIB. Mereka telah berpamitan kepada Asisten Lapangan (Aslap) dan meminta agar pihak SPPG mencarikan tenaga pengganti mereka sementara untuk di hari Jumat dan sabtu karena mereka semua mengalami sakit dan akan memulihkan kesehatannya terlebih dahulu.
Namun ternyata pada hari ju'at 25/9/26 Aslab diutus oleh pihak SPPG untuk menyusul mereka agar kembali bekerja.
Namun karena kondisi fisik mereka masih belum kuat mereka menolak untuk masuk kerja pada hari itu dan mereka meminta untuk mencarikan pengganti sementara.
Kemudian di hari sabtu 26/9/26 kembali ada utusan dari pihak SPPG dan ada juga komunikasi melalui WhatsApp meminta agar mereka kembali bekerja seperti biasanya.
Namun karena fisik mereka masih lemah khawatir nanti akan kembali sakit maka mereka tetap menolak dulu untuk bekerja mereka berjanji bahwasannya hari Senin nanti mereka siap kembali melaksanakan tugasnya. Karena untuk saat ini fisik mereka masih lemah perlu pemulihan.
Namun dari pihak SPPG terus mendesak dan memaksa mereka kembali bekerja.
Bahkan pihak SPPG memberikan konsep surat permohonan maaf yang harus ditandatangani ke-8 orang tim persiapan tersebut.
Karena ini merupakan permintaan dari pihak SPPG maka para relawan tersebut membuat surat pernyataan maaf dan menandatanganinya.
Namun ternyata surat tersebut dijadikan alasan oleh pihak SPPG bahwasannya mereka telah membuat surat pengunduran diri.
Dan menakut-nakuti para relawan bahwa mereka telah mengakui kesalahannya mereka memboikot SPPG sehingga mereka tidak bisa lagi bekerja seperti biasanya.
Dan ada beberapa orang yang langsung diberi surat PHK.
Atas terbitnya berita tandingan yang dibuat oleh pihak SPPG.
Pihak relawan merasa dipojokkan dan merasa terancam akan dipidanakan oleh pihak SPPG.
"Apa salah kami..?
Kami hanya ingin istirahat dua hari karena sudah dua minggu lebih kami bekerja selama 13 jam mulai dari jam 04.00 sore sampai dengan jam 05.00 subuh terus menerus sehingga fisik kami tidak kuat..
Kami hanya minta waktu dua hari untuk beristirahat karena kami memang benar-benar sakit.
Tetapi kami justru dituduh memboikot...
Apalah daya kami bisa memboikot SPPG...? Perlakuan ini tidak memanusiakan kami selaku relawan.
Walaupun kami hanya relawan tapi kan kami juga punya hak untuk berobat dan beristirahat karena sakit"
Kata salahsatu relawan kepada pewarta.
Di sisi lain Samsi Eka Putra, S.H. selaku penasihat hukum para relawan dari LBH Awalindo kabupaten Lampung Utara mengatakan bahwa
"Kami sudah pernah berdialog dengan kepala SPPG tersebut.
Menurutnya para relawan tersebut sudah seringkali melakukan kesalahan dan bermalas-malasan dan sudah pernah diberi surat peringatan (SP) 2 kali sehingga saat ini jika mereka diberhentikan sudah sesuai dengan prosedur.
Karena tindakan mereka ini sudah mengarah pada boikot SPPG yang akan menghambat distribusi MBG ke sekolah-sekola"
Lanjut Sams lagii apa yang disampaikan oleh kepala SPPG tersebut itu hanyalah bentuk kebenaran saja untuk membela diri.
Karena pada faktanya para relawan tidak pernah mendapat surat peringatan (SP) dan tidak ada niatan bagi relawan untuk melakukan boikot.
Apa yang terjadi pada saat itu semua terjadi secara natural, sebab sebagai manusia biasa tentu ada ambang batas kemampuan.
Karena mereka sudah di fosil bekerja selama 13 jam Sudah hampir dua minggu lebih berturut-turut sehingga fisik mereka lemah yang pada akhirnya mereka semua jatuh sakit.
Sebelum mereka izin untuk berobat dan memulihkan fisiknya, Mereka pun sudah berpamitan dan meminta kepada pihak SPPG untuk mencarikan tenaga sementara untuk menggantikan pekerjaan mereka karena mereka sedang sakit mau memulihkan kesehatan terlebih dahulu.
Namun ternyata pihak SPPG justru tidak mau tahu tentang kondisi kesehatan mereka Dan menganggap bahwa para relawan tersebut telah memboikot SPPG.
Dalam hal ini silakan publik yang menilai antara berita tandingan yang telah dibuat oleh pihak SPPG dengan fakta yang sebenarnya terjadi.
Seharusnya pihak SPPG lebih bisa memanusiakan para relawan jangan mengeksploitasi tenaga para relawan dengan mempekerjakan mereka overtime hingga 13 jam.
Hanya demi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya bagi SPPG.
Bahkan para relawan juga mengeluhkan bahwa dalam bekerja mereka sering terganggu karena sering ada perubahan menu yang mendadak tidak sesuai dengan petunjuk ahli gizi.
Dan demi untuk meraih keuntungan yang besar para relawan juga pernah disuruh mengolah ayam yang sudah membusuk yang sudah tidak layak lagi dikonsumsi tapi mereka tetap disuruh mengolahnya menjadi ayam kecap supaya aroma busuknya bisa hilang.
Atas fakta ini sudah seharusnya BGN melakukan evaluasi terhadap SPPG tersebut Pungkap Samsi.
Kini publik menanti ketegasan dari pihak yang berwewenang, SATGAS MBG, dan Pihak Badan Gizi Nasional (BGN) agar bertindak tegas segera melakukan tindak lanjut atas peristiwa ini karena di sisi lain ternyata telah terungkap bahwa di dapur SPPG Yayasan darul Fattah negara ratu 1 telah melakukan banyak penyimpangan yang tentu sangat berbahaya karena beresiko rawan keracunan bagi anak-anak bangsa yang sedang menuntut ilmu di sekolah karena ternyata ada pengolahan makanan yang tidak layak Konsumsi.
Dan tidak menutup kemungkinan akan ada hal-hal lain yang tidak sesuai standar dapur SPPG. Sebagaimana ketentuan BGN
Publik khususnya para orang tua siswa berharap agar Hal ini segera di evaluasi secara menyeluruh dan di publikasikan secara transparan agar dapat menjamin mutu gizi, keamanan dan kesehatan bagi siswa siswi para penerima manfaat.
Yang sangat berpotensi akan merusak program pemerintah yang di prioritaskan oleh Bapak Presiden Prabowo
"**-"
( AYU JURNAL 5 )
